Pemecatan Ranieri Buktikan Sepakbola Zaman Ini Hanya Bisnis Semata

Belum genap dua musim menangani Leicester City, Claudio Ranieri harus menelan pil pahit didepak oleh kesebelasan yang bermarkas di Stadon King Power itu. Bahkan kesuksesan merebut gelar juara Liga Primer Inggris musim lalu tak membuatnya kebal dari pemecatan. Ranieri ditunjuk sebagai pelatih Leicester pada 13 Juli 2015. Pencapaian terbesarnya adalah membawa mereka juara -- disebut-sebut sebagai salah satu pencapaian terbaik dalam sejarah sepak bola Inggris.
 Belum genap dua musim menangani Leicester City, Claudio Ranieri harus menelan pil pahit didepak oleh kesebelasan yang bermarkas di Stadon King Power itu. Bahkan kesuksesan merebut gelar juara Liga Primer Inggris musim lalu tak membuatnya kebal dari pemecatan.   Ranieri ditunjuk sebagai pelatih Leicester pada 13 Juli 2015. Pencapaian terbesarnya adalah membawa mereka juara -- disebut-sebut sebagai salah satu pencapaian terbaik dalam sejarah sepak bola Inggris.

Belum genap dua musim menangani Leicester City, Claudio Ranieri harus menelan pil pahit didepak oleh kesebelasan yang bermarkas di Stadon King Power itu. Bahkan kesuksesan merebut gelar juara Liga Primer Inggris musim lalu tak membuatnya kebal dari pemecatan.
Ranieri ditunjuk sebagai pelatih Leicester pada 13 Juli 2015. Pencapaian terbesarnya adalah membawa mereka juara — disebut-sebut sebagai salah satu pencapaian terbaik dalam sejarah sepak bola Inggris.

Keputusan Leicester City memecat Claudio Ranieri kembali mengingatkan kalau sepak bola di zaman modern ini hanya soal bisnis semata. Pemecatan Ranieri membuktikan kalau sepak bola industri yang kejam.

Ranieri resmi dipecat manajemen Leicester, Kamis (23/2) malam, satu hari setelah membawa The Foxes tampil apik melawan Sevilla di leg pertama babak 16 besar Liga Champions. Meski kalah 1-2 dari Sevilla, penampilan Leicester di Ramon Sanchez Pizjuan menuai banyak pujian.

Pemecatan Ranieri terjadi 298 hari setelah pelatih asal Italia itu membawa Leicester menjadi juara Liga Primer (Liga Inggris) untuk kali pertama dalam 113 tahun sejarah klub. Padahal Leicester masih bermain di divisi dua (Championship) pada 2014.

Sebagai manajer yang mampu membawa Leicester juara Liga Primer, sepertinya tidak adil bagi Ranieri dipecat. Terlepas dari posisi Leicester di klasemen Liga Primer saat ini, yaitu hanya unggul satu poin atas Hull City yang berada di zona degradasi.

Pasalnya, Leicester bukan tim-tim seperti Manchester United, Chelsea, Arsenal, atau pun Manchester City, yang setiap musimnya memiliki target ambisius: Juara Liga Primer!

Sejak didirikan pada 1884, prestasi terbaik Leicester sebelum kedatangan Ranieri adalah menjadi runner-up Liga Inggris pada 1929. Leicester bukan klub kaya dengan prestasi mentereng yang gemar memecat manajer. Itulah sebabnya Ranieri dianggap pantas mendapat perlakuan yang lebih baik, lebih daripada dipecat saat musim masih berjalan.

Ranieri pantas mendapat perlakuan yang lebih baik dari Leicester setelah mempersembahkan gelar Liga Primer dan membawa The Foxes melangkah hingga babak 16 besar Liga Champions musim ini. Sesuatu prestasi yang tidak (atau mungkin lupa) disebutkan presiden Aiyawatt Srivaddhanaprabha dalam keterangan resminya terkait pemecatan Ranieri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *