Nama Ranieri selalu Terpatri di Sanubari The Foxes

Nama Ranieri selalu Terpatri di Sanubari The Foxes
Nama Ranieri selalu Terpatri di Sanubari The Foxes

Nama Ranieri selalu Terpatri di Sanubari The Foxes

Claudio Ranieri memang sudah tak lagi menjabat manajer Leicester City setelah petinggi klub memutuskan untuk mendepaknya, Kamis (23/2) malam waktu setempat. Namun, namanya selalu terpatri di sanubari suporter The Foxes.

Sejumlah spanduk dukungan atau sekadar ucapan terima kasih pun bermunculan di King Power Stadium, Senin (27/2) waktu setempat. Hari itu, Jamie Vardy dkk untuk kali pertama harus berjuang tanpa Ranieri.

Beruntung, Leicester sukses meraih kemenangan telak 3-1 atas Liverpool. Namun, rasa hormat suporter tak pernah pudar. Spanduk bertuliskan “Grazie Claudio” atau “Terima kasih Claudio” pun dibentangkan di areal tribune.

Beberapan fan juga mengekspreksikan kecintaannya dengan menggunakan topeng wajah Ranieri yang identik dengan kacamata.

Pria berkacamata itulah yang mewujudkan “mimpi” seluruh pendukung setia Si Rubah dengan memastikan titel Liga Primer jatuh ke tangan Leicester pada 2 Mei 2016.

Adapula spanduk Ranieri tengah mengangkat titel Liga Primer Inggris musim 2015/16 bertuliskan The God Father Part II.

Istilah Godfather memiliki arti bapak baptis dalam agama Katolik. Namun, the Godfather juga dikenal lewat film legendaris yang disutradarai Francis Ford Coppola dengan skenarionya ditulis Mario Puzo dan Coppola.

Meski digambarkan sebagai pemimpin mafia Italia (Vito Corleone) yang paling dipandang dalam dunia perjudian dan bisnis narkoba, Corleone memiliki jiwa rendah hati. Ia juga mengedepankan arti persahabatan.

Kehadiran Ranieri di Leicester dianggap sebagai Vito Corleone jilid kedua.

Para pemain Leicester digadang sebagai aktor utama di balik keputusan pemilik klub untuk mendepak Ranieri.

Dikabarkan dua media Inggris, The Times dan Sky Sports, pemecatan dilakukan setelah pemilik klub Vichai Srivaddhanaprabha bertemu para pemain untuk membahas krisis yang terjadi di dalam tim.

Pertemuan itu terjadi di Sevilla, Spanyol, pada pagi hari setelah Leicester City kalah 1-2 dari Sevilla di 16 Besar Liga Champions, Rabu (22/2) malam. Ironisnya, The Foxes sendiri menuai pujian usai kekalahan itu karena dianggap tampil baik dan telah kembali ke performa mereka musim lalu.

The Times juga melaporkan, para pemain senior menyatakan kecemasan mereka atas kepemimpinan Ranieri karena memilih menurunkan Ahmed Musa ketimbang Demarai Gray melawan Sevilla. Gray dianggap para pemain senior sedang tampil di performa terbaiknya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *